Friday, January 28, 2011

Ketulusan

Di sebuah kota, tinggallah seorang ayah dan anak laki-lakinya. Sang ayah bekerja menjual perabotan pecah belah keliling kota dengan mendorong barang dagangannya dalam sebuah gerobak yang sudah usang. Tak peduli peluh yang menetes, atau terik matahari yang menyengat, bapak tua itu terus berjalan menjajakan barang dagangannya dari satu tempat ke tempat lain demi mendapatkan uang untuk membiayai hidupnya dan anak laki-lakinya serta untuk membiayai pendidikan anak laki-lakinya. Bapak tua itu bertekad dalam hatinya bahwa anak laki-lakinya harus bisa menjadi seseorang yang sukses, jangan seperti dirinya yang hanya sebentar merasakan duduk di bangku sekolah. Hanya dengan membayangkan melihat anaknya lulus dari sekolah menengah atas saja sudah membuat bapak tua ini bersemangat kembali setiap kali dia merasakan dahaga yang membuat kerongkongannya kering, atau setiap kali dia merasakan perutnya bergejolak karena belum mendapat asupan makanan sedari pagi. Dia terus saja berjalan, berharap bisa segera mendapatkan uang untuk bisa dibelanjakan makanan untuknya dan anaknya, serta untuk ditabung.
Sementara itu, anak laki-laki bapak tua itu tidak pernah berada di sekolah untuk belajar, dia pamit untuk pergi ke sekolah, namun kenyataannya dia pergi berkumpul dengan teman-temannya. Dia tidak pernah peduli bagaimana orang tuanya mendapatkan uang demi dirinya, yang dia inginkan adalah bisa diterima oleh teman-temannya yang dianggap "gaul" oleh sebagian orang. Dia mencontoh semua yang dilakukan teman-teman mainnya itu; merokok, minum-minuman keras, hingga melakukan "piercing" hanya untuk dianggap oleh kelompok "gaul" tersebut.
Suatu ketika, sang ayah melihat telinga anak laki-lakinya yang penuh dengan tindikan, sehingga membuatnya marah besar. Dia memaksa anaknya untuk membuang semua anting yang berderet terpasang ditelinga anaknya, hingga akhirnya sang anak merasa marah dan mendorong dengan sangat keras ayahnya yang sudah tua itu hingga terjatuh. Tanpa peduli dengan ayahnya, si anak menyambar jaket yang ada di kursi lalu pergi meninggalkan rumahnya. Dia terus saja berjalan dengan tangan terkepal, yang ada dalam pikirannya hanyalah kekesalan terhadap ayahnya. Saat tangannya merogoh ke saku jaket, dia merasakan secarik kertas dan sebuah bungkusan kecil di dalamnya. Dia mengeluarkannya dari saku jaket itu yang ternyata secarik surat dan sebuah kado yang terbungkus rapi. Suratnya ditulis dengan tulisan cakar ayam yang dia tahu milik ayahnya, dia membaca surat itu perlahan.
"Anakku, hari ini ulang tahunmu, ayah tidak bisa memberimu yang lebih baik. Ayah melihat dasi ini di pasar malam kemarin sore, dan terpikir untuk menghadiahkanmu benda ini. Ayah ingin melihatmu memakainya saat hari kelulusanmu. Ayah bangga kamu bisa bersekolah hingga SMA. Ayah tahu mendiang ibumu juga pasti bangga padamu. Apa yang bisa ayah lakukan untuk membuatmu selalu bahagia, itulah yang akan ayah lakukan. Selamat Ulang Tahun, Anakku."
Dengan tangan gemetar, anak laki-laki itu membuka kotak kecil di tangannya. Sebuah dasi yang meski pun dia tahu itu bukan barang mahal, tapi tampak sangat indah. Tanpa pikir panjang, dia berlari kembali ke rumahnya dan langsung menghambur ke pelukan ayahnya. Dia menangis dengan sangat kencang, meraung dan memeluk ayahnya dengan sangat erat.
"Maafkan aku ayah...maafkan aku" dia mengatakannya berkali-kali. Sang ayah mengetahui anaknya sudah menyadari kesalahannya berkata, "ayah memaafkanmu, karena ayah mencintaimu..kamulah satu-satunya yang ayah miliki di dunia ini." Mendengar perkataan ayahnya, si anak laki-laki ini berlutut dikaki ayahnya dan kembali menangis menyadari kesalahannya kepada ayahnya. Dia menatap mata tua ayahnya yang berurai air mata dan berkata, "ayah...terima kasih karena begitu tulus mencintaiku. Ayah..aku mencintaimu." Dan mereka berdua pun menangis berpelukan.

Notes:
Sahabat-sahabat dalam kasih...berapa dari kita yang pernah melakukan kesalahan terhadap orang tua kita? Berapa dari kita yang menyadari kesalahan kita dan meminta maaf tulus kepada orang tua kita? Berapa dari kita yang mengatakan kepada orang tua kita bahwa kita menyayangi mereka? Saya teringat pada lagu Ronan Keating "IF TOMORROW NEVER COMES" lagu itu menginspirasi saya bahwa setiap penyesalan selalu datang terlambat. Ada baiknya kalau kita mau menyadari kesalahan kita dan meminta maaf secara tulus, bukan hanya kepada orang tua kita tapi juga kepada saudara atau teman. Katakan kepada mereka bahwa kita menyayangi mereka, bukan pada saat mereka berulang tahun atau hanya pada saat hari kasih sayang, katakanlah pada mereka setiap saat kita menginginkannya. Jangan menunggu saat yang tepat, karena belum tentu saat yang tepat itu datang menghampiri kita. Selamat Hari Valentine dan Selamat Tahun Baru Imlek. Semoga semua makhluk berbahagia~SABBE SATTA BHAVANTU SUKHI TATTA.

No comments:

Post a Comment